Lima
tahun lalu, ya aku masih ingat cowok berambut coklat di depanku ini menatapku
dengan tatapan tajamnya khas playboy sekolahan. Sebenarnya aku tahu aku akan
jadi korban keplayboyannya itu, tapi apalah daya saat itu aku hanya seorang
cewek SMP biasa yang terbius oleh ketampanannya maklumlah model coverboy. Dan
kini ia hadir di hidupku lagi. Apa aku rela hidupku di injak – injak lagi karna
kehadirannya?. Ahhh, aku tidak sudi.
Masih
lekat di fikiranku lima tahun yang lalu, di ruang kelas 2 SMP saat ujian tengah
semester dia duduk bersebelahan denganku. Aku menatapnya penuh binar
kebanggaan. Bagaimana tidak?? Aku bersebelahan dengan seorang model yang
tampangnya sudah menghiasi puluhan majalah remaja, selain itu dia juga menjadi
cowok paling terkenal dan kaya di sekolahan. Hm, saat itu aku berharap dia
menatapku dan menjadikanku pacar. Hah, segera kubuang ke laut fikiran – fikiran
aneh itu. Aku coba untuk bersikap biasa di hadapannya, aku tahu anak – anak
sekelasku sebenarnya memperhatikan kami terutama cewek – cewek, mungkin mereka takut kalau- kalau aku
menggodanya. Ahhh, siapa juga yang mau menggoda cowok ini.
Aku
menyodorkan satu lembar kertas absen padanya, ia hanya mengambilnya cuek tanpa
mengucapkan satu katapun padaku, dan akupun membalasnya dengan kecuekan juga.
Sudah 5 hari ini kami melaksanakan ujian tengah semester, kurang 1 hari lagi
maka ujian yang menguras fikiran dan tenaga ini selesai. Selama 5 hari itu juga
aku dan Dewa saling cuek satu dengan yang lainnya.
Hari
terakhir ujian, kali ini pelajaran Bahasa Inggris. Aku dan Dewa sibuk menggarap
ujian kami masing – masing. Untuk ukuran orang sesibuk Dewa, dia anak yang
cukup pintar. Ini dapat dibuktikan dari dia yang tidak pernah mencontek sama
sekali selama ujian berlangsung. Tapi ada yang aneh di hari ini, Dewa yang
sedari tadi kertasnya sudah lengkap dengan jawaban memandangku tajam. Haa, apa
dia jatuh hati padaku??. Akhh, kali ini kubuang fikiran anehku ini ke sungai.
Iya
benar, sudah 5 menit ini dia menatapku. Haah, jantungku berdisko ria. Kalau
jantungku ini ada loud speakernya mungkin dari radius 8 meter degup jantungku
ini bisa terdengar, saking kerasnya.
“Udah
selesai?” dia bertanya padaku. Aneh, kenapa baru sekarang dia mau berbincang
denganku?
“Belum,
sebentar lagi,” jawabku singkat.
“Hm,
aku boleh bilang sesuatu sama kamu ngak?” dia menyibak rambutnya dengan jari –
jemarinya, persis iklan shampoo.
“Iya,
bilang aja,” ucapku masih berusaha cuek.
“I
Love You”
Ha!
aku cuma bisa melonggo dengan bodohnya.
“Jawab
dong Rahmi” serunya.
“Rahmi,
jawab dong” serunya sekali lagi sambil memegang tanganku yang hampir saja beku
karna saking nervousnya.
Gilaaa,
serasa ada gempa di jantungku ini, tanpa basa-basi aku langsung menjawab “I Love
You Too”
Seketika seisi kelas
menjadi riuh, anak – anak tertawa sekeras - kerasnya. Anak – anak yang kufikir
sibuk mengerjakan soal ujian, yang ternyata hanya akting!. Sayup – sayup
terdengar “ Dewa menang taruhan”. Mendengarnya, seketika aku langsung
mengumpulkan kertas ujianku dan berlari keluar.