Tak
terasa sudah satu bulan ini aku berkenalan denganmu. Aku masih ingat awal kita
berkenalan. Kita berkenalan lewat media sosial facebook. Mungkin ini yang dinamakan cinta dunia maya. Tapi boy,
entah takdir atau ini hanya sebuah permainanmu. Sampai detik ini kita masih
bersama, masih saling berkomunikasi. Boy, aku sangat mencintaimu. Taukah kau
Boy, kau telah masuk ke dalam hatiku dan menuliskan namamu di dalamnya. Buatku
selalu menghadap kearahmu tanpa berani berpaling pada lelaki manapun. Tapi Boy,
hidup ini tak seindah drama korea yang selalu kutonton. Begitupun kisah cinta
kita, tak selamanya indah. Malah aku merasa banyak hal yang menyakitkan yang
terjadi. Tapi sekali lagi, tak ada yang dapat kuperbuat, kau tlah menguasai hati
dan logika ini.
Satu
bulan yang lalu, tepatnya sehari setelah kau meminta nomor hpku saat itu kita
memutuskan untuk saling bertemu. Memang kuakui, sebagai seorang wanita tak ada
sedikitpun hal yang menarik pada diriku. Aku tidak cantik, kaya maupun pintar.
Kuakui aku hanya twanita biasa, bahkan aku terlalu blak – blakan dalam
menyatakan apapun yang ada dalam hatiku. Tapi itulah aku, aku tidak ingin
merubah sifatku ini. Menurutku menjadi seseorang yang terbuka adalah hal yang
terbaik, dimana dengan sikap ini aku bisa menjadi seseorang yang tidak munafik.
Seseorang yang selalu jujur pada dirinya sendiri.
Waktu
berlalu begitu cepat, hingga hari ini tepat sebulan kita berkenalan. Tak ada
yang special dari hubungan yang kita jalani. Hanya berkomunikasi melalui sms
ataupun telepon dan sesekali jalan berdua. Hubungan yang kita jalani hanya
sebatas itu saja, entah apa yang ada di benakmu. Tapi dalam benak ini telah
menyimpan namamu dalam memorinya. Entahlah, aku tidak tahu apa yang ada di
benak dan hatimu Boy. Entah kau menganggapku sebagai teman, pacar atau bahkan
sama sekali tak menganggap aku ada. Terserahlah!
Berbeda
dari sebulan yang lalu, kali ini kau mulai menyampaikan radar ketidaksukaanmu
padaku. Kau mulai tak membalas smsku, padahal itu yang selalu kutunggu. Kau
juga menolak telepon dariku. Huh, rasanya ingin sekali lepas darimu. Tetapi
susah, dengan bodohnya aku masih saja mengirimkan sms padamu. Kali ini aku
malah lebih idiot lagi, dengan pdnya aku meneleponmu dan berkata “I Love You.”
Dan dengan santainya tanpa berkata apapun kau mematikan telepon dariku. “Huh,
awas kau nanti Boy kelak aku akan membuatmu mencintaiku dan aku akan
membuangmu!” Itu janjiku Boy!